Di tengah target meningkatkan kinerja operasional dan keuangan pada 2023, emiten perkebunan PT Eagle High Plantation Tbk. (BWPT) menegaskan komitmennya dalam implementasi environmental, social, and governance (ESG).
Dalam program berkelanjutan, misalnya, entitas Grup Rajawali tersebut telah mengantongi 1 sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan 6 sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) di entitas usaha perseroan.
Direktur Utama BWPT Hendri Djuandi menyampaikan perseroan menaruh modal perihal sawit berkelanjutan hingga nantinya mendapatkan sertifikasi RSPO dan ISPO. Modul tersebut nantinya menjadi fokus area pengembangan di operasional BWPT lainnya.
“Kami membuat modul di satu lokasi yang menjadi fokus area pengembangan hingga sertifikasi RSPO. Jadi, setelah semua siap, tinggal di-copy ke lokasi operasional yang lainnya,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (17/5).
Namun demikian, tantangan pandemi Covid-19 membuat proses sertifikasi tertatih di karena semua industri melambat. Dalam waktu dekat, BWPT menargetkan mendapatkan 1 sertifikasi RSPO dan 2 sertifikasi ISPO. Target tersebut pada 2027, seluruh anak usaha BWPT bisa mendapatkan sertifikasi RSPO dan ISPO.
BWPT juga berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) lebih lanjut. Pada 2020, perusahaan sudah mengoperasikan PLTBg Sukadana di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, untuk mengelola Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
PLTBg Sukadana dengan daya 2,4 MW memasok listrik ke PLN, yang kemudian menyalurkannya ke pelanggan di regional Kalimantan Selatan. Selain memberikan instalasi listrik untuk PLN, lanjut Hendri, adanya PLTBg dapat mengurangi limbah POME dan mereduksi emisi CO₂ hingga 52% pada 2022.
BWPT telah mengoperasikan delapan PKS hingga 2022. Ke depan, sambung Hendri, perseroan akan mengembangkan tiga PLTBg lagi di sejumlah pabrik dengan kapasitas sekitar 1,5 MW-2 MW per unit.
“Kalau daya listrik nantinya tergantung kapasitas pabriknya. Pengembangan PLTBg terdekat rencananya di Kalimantan Tengah. Tahun depan mudah-mudahan kami punya Kernel Crushing Plant [KCP], tenaga listriknya dari biogas,” jelasnya.
Sementara itu, sebagai kompensasi dari RSPO, anak usaha BWPT PT Jaya Mandiri Sukses (JMS) dan PT Bumitama Lestari (BHL) melakukan rehabilitasi di Kawasan Hutan Bakau di Desa Dumaring, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan tersebut tercemar karena abrasi pantai yang menyebabkan banyak pohon bakau tumbang.
Abrasi pantai yang parah menyusutkan luas Kawasan Hutan Bakau ini, dari 127,7 hektare (28,6% luas mangrove) pada tahun 1988, menjadi hanya 42,6 hektare (9,5% luas mangrove), pada 2021. Hal ini dapat menyebabkan banjir dan intrusi air sehingga berdampak penduduk desa sekitar.
Proyek rehabilitasi Kawasan Hutan Bakau dimulai pada tahun 2022 dan direncanakan untuk diimplementasikan dalam jangka panjang 25 tahun ke depan. Dalam hal ini, Grup BWPT juga bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat.
“Konsepnya ialah rehabilitasi kawasan bakau, yang kemudian bisa dijadikan wisata untuk membantu pemasukan desa dan warga setempat. Kawasan Hutan Bakau yang dikelola sekitar 400 hektare,” paparnya.
Di Ketapang, Kalimantan Barat, BWPT juga melakukan konservasi perlindungan habitat orangutan menggunakan metode Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART) di perkebunan PT Arrtu Energie Resources (AER). Luasan wilayah ini dilindungi 4.800 hektare.
Hendri menyampaikan pihaknya sudah melakukan monitoring selama setahun untuk mendata habitat orang utan, yang ternyata terdapat banyak sarang. Oleh karena itu, perusahaan menilai elitisnya untuk mengelola kembali hutan tersebut sehingga habitat orang utan terlindungi.
BWPT juga melakukan rehabilitasi lahan gambut seluas 1.500 ha di Kalimantan Tengah. Lahan gambut yang rusak ini perlu dicanangkan kembali sehingga dapat dilakukan penanaman kembali. Proyek jangka panjang ini juga bertujuan memberikan manfaat flora dan fauna di kawasan gambut.
Hafiyyan
hafiyyan@bisnis.com