Reporter: Hafiyyan & Annisa Kurniasari Saumi | Editor: Hafiyyan.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan dan pengolahan CPO Grup Rajawali, PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) mematangkan rencana untuk melakukan kuasi reorganisasi.
Choong Kamloong, Direktur & CFO BWPT, menyampaikan perseroan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memenuhi persyaratan melakukan aksi korporasi kuasi reorganisasi. Saat ini, BWPT masih dalam tahap menyempurnakan permintaan dokumen.
“Rencana kuasi reorganisasi tetap berjalan, kami berupaya memenuhi permintaan dokumen, sejumlah persyaratan dari OJK. Kami terus berkoordinasi,” ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (11/9/2025).
Menurut Choong Kamloong kuasi reorganisasi dapat mendukung pertumbuhan bisnis BWPT ke depannya dan memperbaiki struktur keuangan.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BWPT menyampaikan rencana untuk melakukan kuasi reorganisasi, untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya atas posisi keuangan perseroan.
Alasan dan tujuan dari kuasi reorganisasi ini adalah untuk memperbaiki struktur ekuitas perseroan. Selain itu, BWPT dapat memperoleh laporan posisi keuangan konsolidasian yang menunjukkan posisi keuangan dan struktur modal yang lebih baik tanpa dibebani defisit masa lalu.
Dengan tidak adanya saldo defisit, maka akan memunculkan harapan jika BWPT mampu untuk membagikan dividen ke pemegang saham sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Selain itu, kuasi reorganisasi juga dilakukan untuk meningkatkan minat dan daya tarik investor untuk memiliki saham BWPT, sehingga meningkatkan likuiditas perdagangan saham perseroan dan memperoleh modal kerja dalam ekspansi kegiatan usaha.
Dalam kuasi reorganisasi ini, perseroan bermaksud melakukan rencana kuasi reorganisasi dengan mengeliminasi saldo laba negatif sebesar Rp4,06 triliun dan hasil pengeliminasian akumulasi rugi perseroan saat merencanakan kuasi reorganisasi adalah sebesar nol, dengan cara melakukan eliminasi antara akumulasi rugi dengan agio saham yang dimiliki BWPT.
Manajemen juga menjelaskan dampak positif dari kuasi reorganisasi terhadap posisi ekuitas perseroan adalah BWPT dapat memulai awal yang baru dengan menunjukkan posisi keuangan yang lebih baik tanpa dibebani oleh defisit masa lalu.
Mengutip laporan keuangan BWPT, pendapatan usaha mencapai Rp2,77 triliun pada semester I/2025. Pendapatan tersebut meningkat 38,07% year-on-year (YoY) dari Rp2,012 triliun pada semester I/2024.
Berdasarkan produk, pendapatan BWPT per Juni 2025 berasal dari minyak kelapa sawit Rp2,41 triliun, inti kernel Rp324,04 miliar, dan tandan buah segar (TBS) Rp34,85 miliar. Penjualan produk tersebut meningkat dari perolehan pada semester I/2024, masing-masing senilai Rp1,84 triliun, Rp149,65 miliar, dan Rp20,61 miliar.
Beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp1,99 triliun per Juni 2025 dari sebelumnya Rp1,41 triliun. Namun, BWPT masih menghimpun lonjakan laba bruto menjadi Rp780,14 miliar dari Rp596,06 miliar per Juni 2024.
Entitas Grup Rajawali tersebut menghimpun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp171,88 miliar pada semester I/2025.
Laba bersih tersebut naik 43,58% dari sebelumnya Rp119,70 miliar. Laba per saham pun meningkat menjadi Rp5,52 dibandingkan Rp3,85 per Juni 2024.
Di sisi lain, BWPT meningkatkan ekuitas dan memangkas liabilitas per Juni 2025. Ekuitas mencapai Rp2,62 triliun pada semester I/2025, naik dari Rp2,45 triliun pada akhir tahun lalu.
Liabilitas BWPT berkurang menjadi Rp7 triliun dari sebelumnya Rp7,34 triliun. Total aset pada semester I/2025 pun mencapai Rp9,63 triliun.
Sumber : Bisnis Indonesia
Link : https://market.bisnis.com/read/20250911/192/1910340/bwpt-matangkan-rencana-kuasi-reorganisasi-dengan-ojk