Ipotnews – Kinerja keuangan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga sembilan bulan pertama tahun 2025.
Emiten perkebunan kelapa sawit ini berhasil membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp271,44 miliar sepanjang Januari – September 2025.
Capaian tersebut melonjak 52,04% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan Januari – September 2024 yang tercatat sebesar Rp178,99 miliar. Kenaikan laba bersih ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha yang kuat serta upaya efisiensi biaya operasional yang dilakukan perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian BWPT melalui laman resmi IDX, Kamis (30/10), pendapatan usaha tercatat sebesar Rp4,19 triliun hingga akhir September 2025. Angka ini meningkat 43,00% dari Rp2,93 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pendapatan meningkat tajam, beban pokok penjualan juga naik 47,57% menjadi Rp3,042 triliun dari Rp2,06 triliun pada tahun lalu. Alhasil, laba kotor BWPT masih tumbuh solid menjadi Rp1,15 triliun di 9M25, dibandingkan Rp872,04 miliar di 9M24.
Laba usaha BWPT tercatat melonjak menjadi Rp870,03 miliar dari Rp603,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Setelah memperhitungkan seluruh pos pendapatan dan beban, laba sebelum pajak tercatat melonjak menjadi Rp560,08 miliar dibandingkan Rp296,83 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp274,43 miliar, laba periode berjalan mencapai Rp285,65 miliar, naik dari Rp185,15 miliar per September tahun lalu.
Dengan hasil tersebut, laba per saham dasar BWPT ikut meningkat menjadi Rp8,72 per saham, dibandingkan Rp5,75 per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Total aset BWPT per Desember 2024 mencapai Rp9,79 triliun, lalu merosot menjadi Rp9,40 triliun per September 2025.
Total liabilitas BWPT mengecil dari Rp7,34 triliun pada akhir tahun lalu, menjadi Rp6,68 triliun pada akhir September kemarin. Total ekuitas Perseroan membesar dari Rp2,45 triliun menjadi Rp2,72 triliun untuk periode yang sama. (Adhitya/AI)