Reporter: Hafiyyan | Editor: Hafiyyan.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan dan pengolahan CPO Grup Rajawali, PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp1,66 triliun pada 2025—2029 untuk mendukung rencana ekspansi perusahaan.Choong Kamloong, Direktur & CFO Eagle High Plantations, menyampaikan perusahaan mengalokasikan investasi belanja modal untuk peningkatan kapasitas produksi sekaligus margin pendapatan dalam 5 tahun ke depan.
“Kami melakukan investasi untuk memperluas bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, dan fleksibel menjangkau seluruh pasar,” ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (9/11/2025).
Secara total, BWPT mengalokasikan capex Rp1,66 triliun, dengan perincian Rp234 miliar pada 2025, Rp342 miliar pada 2026, Rp422 miliar pada 2027, Rp439 miliar pada 2028, dan Rp224 miliar pada 2029. Belanja modal paling besar digunakan untuk penambahan kapasitas pabrik, ekspansi energi, dan peremajaan alat berat.
Ke depan, BWPT menambah 2 pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Timur, dan 1 PKS di Papua, dengan total kapasitas mencapai 180.000 ton per tahun. Saat ini, pusat kegiatan operasional BWPT berada di Sumatera, Kalimantan, dan Papua dengan total luas lahan perkebunan 87.000 hektare (Ha) dan kapasitas PKS mencapai 2,2 juta ton per tahun.
Dalam penambahan produksi, sambung Choong Kamloong, perseroan juga mengembangkan pabrik kernel crushing plant (KCP) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Pabrik KCP Kalteng yang dibangun mulai 2025 ini nantinya memiliki kapasitas pengolahan 200 ton per hari atau 60.000 ton per tahun.
Hasil utama pabrik KCP ialah minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/ CPKO) dan bungkil inti sawit (palm kernel meal/ PKM), dengan rendemen masing-masing sekitar 45% dan 50% dari total produksi. Artinya, ekstraksinya lebih besar dibandingkan dengan minyak sawit mentah (CPO) yang berkisar 23%-24%.
Dalam meningkatkan produksi CPO, BWPT juga melakukan penanaman baru dan replanting lahan. Pada 2025—2028, target penanaman pohon baru mencapai 7.000 Ha, dan replanting lahan mencapai 14.585 Ha.
Selain itu, BWPT meningkatkan kolaborasi dengan petani plasma untuk mendorong kualitas pohon dan hasil rendemen. Rata-rata oil extraction rate (OER) pohon plasma sekitar 18%-20% akan ditingkatkan agar mencapai kisaran 23%.
“Dengan peningkatan OER, kedua pihak [petani plasma dan BWPT]sama-sama mendapat untung yang lebih baik. Ekonomi masyarakat dan ekonomi daerah juga lebih bergerak,” jelasnya.Dalam ekspansi energi baru terbarukan (EBT), BWPT menargetkan seluruh PKS nantinya dapat mengoperasikan biogas dan biomassa. Di Kalimantan Tengah, perusahaan pada 2025 ini mengembangkan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg). Sebelumnya, BWPT telah mengoperasikan PLTBg berkapasitas 2,4 MW di Kalimantan Selatan sejak 2020.
Sementara itu, dalam upaya menjangkau seluruh pasar sekaligus menerapkan praktik agronomi yang berkelanjutan, BWPT memacu sejumlah sertifikasi seperti RSPO, ISPO, EUDR, dan SPOTT. Pada 2027, manajemen menargetkan seluruh PKS memiliki sertifikasi ISPO dan RSPO.
Menurut Choong Kamloong, dengan kelengkapan sertifikasi, BWPT bisa mendapatkan harga jual CPO yang lebih premium karena tingkat ketelusuran dan keberlanjutan yang baik. Selain itu, dengan inisiatif keberlanjutan yang selaras dengan implementasi EUDR, produk CPO bisa menembus pasar Eropa.“BWPT memperoleh benefit atas dedikasi terhadap ESG, yaitu mendapatkan harga premium untuk setiap produk CPO yang dijual. Walaupun 100% pasar kami domestik, tetapi mitra kami seperti Unilever dan Apical Grup membutuhkan produk yang sejalan dengan implementasi EUDR,” tuturnya.
Dari sisi kinerja keuangan, sambung Choong Kamloong, perusahaan optimistis kinerja BWPT bertumbuh seiring dengan peningkatan produksi dan tingginya harga CPO.Mengutip laporan keuangan BWPT, pendapatan usaha mencapai Rp2,77 triliun pada semester I/2025. Pendapatan tersebut meningkat 38,07% year-on-year (YoY) dari Rp2,012 triliun pada semester I/2024.Berdasarkan produk, pendapatan BWPT per Juni 2025 berasal dari minyak kelapa sawit Rp2,41 triliun, inti kernel Rp324,04 miliar, dan tandan buah segar (TBS) Rp34,85 miliar. Penjualan produk tersebut meningkat dari perolehan pada semester I/2024, masing-masing senilai Rp1,84 triliun, Rp149,65 miliar, dan Rp20,61 miliar.
Beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp1,99 triliun per Juni 2025 dari sebelumnya Rp1,41 triliun. Namun, BWPT masih menghimpun lonjakan laba bruto menjadi Rp780,14 miliar dari Rp596,06 miliar per Juni 2024.
Entitas Grup Rajawali tersebut menghimpun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp171,88 miliar pada semester I/2025. Laba bersih tersebut naik 43,58% dari sebelumnya Rp119,70 miliar.
Laba per saham pun meningkat menjadi Rp5,52 dibandingkan Rp3,85 per Juni 2024.
Sumber : Bisnis IndonesiaLink : https://market.bisnis.com/read/20250911/192/1910469/ekspansi-produksi-hingga-ebt-bwpt-pacu-capex-rp166-triliun