Penulis: Hafiyyan | Editor: Hafiyyan
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) mulai mengoperasikan pabrik kelapa sawit (PKS) baru berkapasitas 30 ton per jam di Kalimantan Timur.
Corporate Secretary BWPT Rizka Dewi menyampaikan untuk menunjang operasional dalam jangka panjang, perseroan telah menyelesaikan pengembangan PKS baru di Kalimantan Timur.
PKS di Kaltim memiliki kapasitas pengolahan 30 ton per jam. Saat ini masih dalam tahap stabilisasi operasional dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mencapai performa optimal.
“Jadi kontribusi PKS baru ke produksi semester II/2025 masih cenderung terbatas. Untuk semester II/2025 kami masih mengandalkan PKS yang sudah ada,” jelasnya kepada Bisnis, baru-baru ini.
Menurut Rizka Dewi, PKS baru menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan perseroan ke depan. Setelah operasionalnya stabil, fasilitas tersebut akan menjadi penopang penting dalam efisiensi logistik dan peningkatan kapasitas olahan di wilayah Kalimantan Timur.
Sebagai informasi, pusat kegiatan operasional BWPT berada di Sumatera, Kalimantan dan Papua dengan total luas lahan perkebunan 87.000 hektar. Kapasitas pabrik kelapa sawit mencapai 2,2 juta ton TBS per tahun.
PENJUALAN CPO NAIK
Rizka Dewi menyampaikan produksi CPO dan palm kernel (PK) BWPT pada semester II/2025 diperkirakan akan relatif stabil dan sejalan dengan capaian di semester I/2025. Namun, dari sisi volume penjualan, terdapat potensi peningkatan dibandingkan semester sebelumnya.
Penjualan CPO BWPT mencapai 171.453 ton per Juni 2025, naik 10% dibandingkan 156.086 ton pada semester I/2024. Volume penjualan PK juga meningkat 12% menjadi 27.261 ton.
“Kami harapkan penjualan CPO dan PK berpotensi meningkat pada semester II/2025 dibandingkan semester sebelumnya,” ujarnya.
BWPT, sambung Rizka Dewi, menilai harga tandan buah segar (TBS) dan CPO akan cenderung stabil pada semester II/2025. Permintaan dari pasar domestik masih cukup kuat, sedangkan pasokan tetap relatif terbatas. Hal ini menjadi faktor penyeimbang yang mendukung stabilitas harga CPO secara umum di pasar.
Pada paruh pertama 2025, kinerja BWPT juga didukung oleh peningkatan harga jual produknya. Harga CPO perseroan naik 20% menjadi Rp14.113 per kg, dan harga PK melonjak 93% menuju Rp11.895 per kg.
Menurut Rizka Dewi, tantangan utama yang dihadapi industri sawit saat ini adalah kondisi cuaca, khususnya di Kalimantan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan kondisi lahan yang basah sehingga mempersulit proses panen dan distribusi TBS dari kebun ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Hal ini berbeda dengan kondisi perkebunan di Sumatera yang relatif lebih kering. Meskipun demikian, prospek industri sawit masih cukup baik dengan permintaan yang tetap terjaga dan dukungan dari pasar domestik dan internasional yang stabil.
Sumber: Bisnis Indonesia
Link: https://market.bisnis.com/read/20250911/192/1910295/eagle-high-plantations-bwpt-operasikan-pabrik-cpo-baru-di-kaltim